Mempunyai banyak gagasan dan pemikiran namun tidak punya banyak waktu untuk mengungkapkannya adalah sebuah ketidakberuntungan bagi saya. Terlebih, jika memang gagasan itu bersifat kondisional dan insidental dimana tidak selamanya hal itu terus berada dalam pikiran. Setidaknya jika kita sempat menulisnya dalam sebuah artikel atau entri, pemikiran itu tidak akan hilang meski kita lupa. Sehingga pada kali ini, saya sempatkan waktu yang saya miliki, meski tidak terlalu banyak, untuk membicarakan beberapa tema yang mungkin menarik untuk dibicarakan. Tidak seperti posting-posting sebelumnya, tema-tema kali ini akan dituangkan dalam bentuk yang lebih sistematis sehingga lebih memudahkan dalam pemindaian ke dalam otak (re: membaca).
Kali ini saya mengangkat tema tentang latar belakang berpikir dan pandangan kedepan berbuat. Dilihat dari segi bahasa yang saya gunakan, mungkin pembaca akan menganggap bahwa saya kurang sistematis, selalu mengedepankan kata yang kurang lazim digunakan, dan penggunaan kata yang kurang efektif. Sehingga mungkin pembaca akan merasa kebingungan dalam memahami kalimat yang secara gramatikal tidak terlalu tepat. Seolah-olah saya sedang berbicara dengan diri sendiri tanpa menghiraukan orang sekitar. Secara substansial, setiap kalimat yang saya utarakan adalah buah dari opini subjektif saya tanpa adanya pembenaran atau penyalahan. Sehingga dalam hal ini, pendapat pembaca akan berbeda dengan saya.
Jilid I : Pandangan Berpikir dan Rancang Bangun Berbuat. Itu adalah kata-kata yang sangat sering saya dengar dari orang tua saya. Itulah mengapa saya mengangkat tema ini sebagai pembicaraan awal.
Seperti biasa, tidaklah orang mengerti isi tanpa membuka kulitnya. Biar bagaimanapun, dalam pembicaraan yang membahas sebuah pengertian, seharusnya kita tau apa arti katanya terlebih dahulu.